Pemerintah Korea Selatan berencana memperketat aturan keamanan siber bagi bank dan exchange kripto setelah menemukan celah keamanan pada 130 dari 555 perusahaan keuangan yang diperiksa, atau sekitar 23,4% dari total perusahaan.
Financial Services Commission (FSC) mengungkapkan bahwa 16 perusahaan keuangan telah menjadi korban serangan siber, termasuk operator exchange kripto Gopax, Streami, dan platform perdagangan kripto Prabang. Insiden tersebut diperkirakan menyebabkan kebocoran sekitar 100.000 data pribadi pelanggan.
Hasil pemeriksaan menemukan sejumlah kelemahan, mulai dari sistem keamanan yang belum diperbarui, penggunaan perangkat lunak usang, hingga kurangnya pemantauan keamanan selama 24 jam.
Sebagai respons, regulator berencana mewajibkan perusahaan keuangan besar melakukan pemeriksaan kerentanan sistem setidaknya dua kali setahun, meningkatkan pengawasan akses jaringan, serta memperjelas tanggung jawab pimpinan perusahaan terhadap keamanan data.
Pemerintah juga mempertimbangkan penggunaan teknologi AI untuk memperkuat pemantauan ancaman siber, khususnya bagi perusahaan keuangan kecil yang memiliki keterbatasan sumber daya.


.png)
