Pemerintah Iran dan Rusia resmi menandatangani perjanjian kerja sama strategis senilai $25 miliar untuk membangun kompleks pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) terbesar di Iran, sebagaimana dilaporkan kantor berita Mehr News dan IRNA pada Rabu, (26/8). Proyek skala besar ini resmi disepakati oleh Organisasi Energi Atom Iran (AEOI) dan perusahaan nuklir negara Rusia, Rosatom, menjelang rencana pertemuan tatap muka antara Presiden Masoud Pezeshkian dan Presiden Vladimir Putin di Kirgizstan pekan depan.
​Kerja sama ini mencakup pembangunan empat unit reaktor nuklir generasi ketiga dengan kapasitas masing-masing sekitar 1.255 megawatt (MW), yang menghasilkan total kapasitas daya gabungan mencapai 5 gigawatt (GW). Fasilitas pembangkit tersebut akan didirikan di atas lahan seluas 500 hektare di wilayah Sirik, Provinsi Hormozgan, Iran selatan, guna mendukung target jangka panjang pasokan energi nuklir nasional Iran sebesar 20 GW.
​Penandatanganan proyek ini berlangsung setelah Rusia menolak mentah-mentah permintaan AS yang disampaikan langsung melalui kunjungan Direktur CIA John Ratcliffe. Pihak AS mendesak Rusia untuk menekan Iran agar membuka kembali blokade akses Selat Hormuz di bawah ancaman sanksi sekunder Operation Economic Outcast. Namun, Rusia menegaskan kepada Iran bahwa ancaman sanksi ekonomi dari AS tersebut tidak berdampak signifikan terhadap kelanjutan kemitraan strategis kedua negara.



