


Senat Amerika Serikat mengesampingkan pembahasan Rancangan Undang-Undang Digital Asset Market Clarity Act (RUU Clarity) untuk sementara waktu pada Selasa (28/7). Melansir laporan Bloomberg, langkah ini diambil karena majelis tinggi tersebut harus mengalihkan fokus dan alokasi waktu sidang yang terbatas pada agenda legislatif lain, termasuk RUU sanksi baru terhadap Rusia dan konfirmasi pejabat federal.
​Kepadatan jadwal Senat semakin ketat menjelang reses musim panas yang dijadwalkan mulai 8 Agustus mendatang. Selain disibukkan oleh prosedur pemungutan suara sanksi Rusia, aktivitas Senat pekan ini juga terbagi oleh prosesi penghormatan dan pemakaman mendiang Senator Lindsey Graham. Kondisi tersebut membuat pemungutan suara awal untuk RUU kerangka kerja Clarity Act ini hampir pasti tidak dapat dilaksanakan sebelum pekan depan.
​Selain masalah keterbatasan waktu, RUU Clarity Act ini juga masih tersandung perdebatan alot mengenai aturan etika pejabat pemerintah. Faksi di Senat belum menemukan titik temu terkait pembatasan bagi pejabat senior, termasuk Presiden Donald Trump, dalam mempromosikan atau mengelola proyek kripto pribadi. Meskipun Gedung Putih menyatakan Trump bersedia menerima batasan keterlibatan aset digital, kelompok Demokrat menilai aturan tersebut belum cukup ketat untuk memangkas potensi konflik kepentingan.
​Ketidakpastian ini mempersempit peluang RUU Clarity untuk disahkan menjadi undang-undang pada tahun 2026. Jika Senat gagal mencapai kesepakatan sebelum reses atau pada sisa agenda sidang September nanti, industri kripto AS harus bersiap menghadapi penundaan regulasi jangka panjang. Untuk sementara, kepastian hukum pasar kripto akan bergantung pada implementasi GENIUS Act untuk stablecoin serta kebijakan dari SEC dan CFTC.