


​Harga minyak mentah Brent secara resmi kembali naik ke level $80 per barel, sementara minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) ikut merangkak naik ke area $75 per barel. Kenaikan tajam ini terjadi menyusul batalnya Perjanjian Islamabad dan Nota Kesepahaman (MOU) oleh pihak Iran maupun Amerika Serikat. Pasar langsung merespons eskalasi tersebut setelah Iran mengumumkan akan menutup total Selat Hormuz secara otomatis jika pihak AS meluncurkan serangan baru.
​Di sisi lain, dalam pernyataannya di sela-sela KTT NATO di Ankara, Turki, pada Rabu (8/7), Donald Trump justru menyatakan bahwa dirinya berencana melakukan serangan susulan malam ini demi memastikan Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir. Selain rencana serangan tersebut, Trump mengklaim bahwa pasokan minyak saat ini sangat melimpah sehingga harganya akan segera turun meski Selat Hormuz kembali tertutup. Ia bahkan menegaskan bahwa pihak AS harus dan akan memastikan mereka bisa menekan pergerakan harga minyak tersebut agar tetap rendah.
​Namun, pantauan pergerakan harga minyak malam ini menunjukkan kondisi yang berbanding terbalik dengan ambisi Trump. Kekhawatiran para pelaku pasar terhadap ancaman penutupan Selat Hormuz dalam beberapa jam kedepan terbukti jauh lebih dominan, hingga sukses mengabaikan prediksi Trump dan mengerek harga minyak Brent kembali ke area $80 serta WTI ke level $75.