Pemerintah Amerika Serikat mengancam akan melakukan aksi balasan secara masif terhadap perusahaan-perusahaan Eropa jika Uni Eropa melanjutkan rencana pembatasan akses spektrum bagi layanan satelit Starlink milik SpaceX. Duta Besar AS untuk Uni Eropa, Andrew Puzder, memperingatkan pada Minggu (18/10) bahwa AS siap memanfaatkan akses ke pasar AS sebagai alat balasan. Melansir Financial Times, ancaman ini dipicu oleh draf regulasi Komisi Eropa yang mengusulkan pemesanan porsi mayoritas spektrum pita 2 GHz khusus bagi operator lokal melalui program IRIS².
Langkah Uni Eropa membatasi penyedia jasa luar demi kedaulatan teknologi dinilai AS sebagai bentuk diskriminasi pasar. Sebaliknya, dorongan Eropa untuk mengurangi ketergantungan pada teknologi AS kian beralasan setelah Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyebut Gedung Putih sengaja memperlambat kecepatan internet Starlink dan menunda pengiriman rudal Patriot untuk menekan Ukraina agar menyerah kepada Rusia. Melansir Bloomberg pada Minggu (18/10), Zelensky mengkritik langkah tersebut sebagai upaya memaksa kapitulasi, meski Pemerintah AS sempat membantah tuduhan penurunan kecepatan jaringan tersebut sehari sebelumnya.
Pertikaian mengenai akses spektrum satelit ini memperpanjang daftar gesekan transatlantik terkait kedaulatan digital dan keamanan infrastruktur kritikal. Meskipun proposal Komisi Eropa masih dalam tahap pembahasan awal, tuduhan manipulasi layanan Starlink di medan pertempuran Ukraina memperkuat kekhawatiran Eropa atas risiko ketergantungan pada teknologi tunggal asal AS, sementara AS tetap mengancam sanksi balasan bagi industri Eropa.



