


Militer Amerika Serikat melalui Komando Pusat (CENTCOM) kembali melancarkan gempuran udara ke wilayah Iran pada Kamis (23/7) malam pukul 18.45 ET atau Jumat pagi (24/7) pukul 05.45 WIB. Ini menjadi rangkaian serangan malam ke-13 secara berturut-turut yang ditujukan untuk melumpuhkan kekuatan operasional Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) sekaligus merespons ancaman Iran di Selat Hormuz.
​Langkah serangan udara ini dibarengi dengan aksi militer ketat di jalur laut. Blokade maritim yang dijalankan CENTCOM selama sembilan hari terakhir mengklaim telah berhasil menghentikan dan mengalihkan rute 12 kapal komersial, serta melumpuhkan satu kapal lainnya guna menutup akses keluar-masuk logistik di wilayah pesisir Iran.
​Menanggapi situasi yang terus memanas, Presiden Donald Trump menegaskan sikap kerasnya lewat unggahan di platform Truth Social. Trump menyatakan bahwa seluruh kerugian atas kerusakan kapal dan kargo akibat konflik ini bakal ditagihkan langsung ke Iran, dengan memanfaatkan dana serta aset milik pemerintah Iran yang saat ini disita dan berada di bawah kendali AS.
​Di sisi lain, pintu diplomasi justru semakin tertutup rapat. Berdasarkan laporan The New York Times (NYT) dari sumber pejabat Irak, Iran secara resmi menolak usulan gencatan senjata yang diajukan oleh Trump. Penawaran damai tersebut sebelumnya disampaikan secara tertutup melalui Perdana Menteri Irak, Mohammed Shia al-Sudani, selaku perantara.