


Untuk pertama kalinya dalam tiga minggu, militer AS menembak kapal berbendera Panama di Teluk Oman pada Selasa (11/8). Menurut laporan The Wall Street Journal, helikopter militer AS menembak kemudi kapal hingga memicu kebakaran besar setelah awaknya mengabaikan peringatan untuk tidak menerobos blokade terhadap pelabuhan Iran. Insiden ini mementahkan klaim para mediator seperti Qatar dan Pakistan yang sebelumnya menyebut negosiasi AS dan Iran telah memasuki tahap akhir serta membuat kemajuan signifikan menuju kesepakatan damai.
Pada saat bersamaan, penasihat Pemimpin Tertinggi Iran, Mohammad Mokhber, membantah klaim Donald Trump yang menyebut Selat Hormuz telah dibuka. Mokhber menegaskan Selat Hormuz akan tetap ditutup secara permanen sampai seluruh tuntutan Iran dipenuhi, sembari memperingatkan bahwa musuh yang kembali memilih jalur perang akan menghadapi perlawanan yang jauh lebih keras.
Juru bicara Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Hossein Mohebbi, memperingatkan bahwa Iran tidak akan segan menyerang balik dan siap melumpuhkan ratusan ribu mil jaringan pipa energi, ribuan pembangkit listrik, hingga infrastruktur internet global jika AS kembali memicu konflik. Lewat manuver ini, Iran dinilai sedang mengirim dua pesan sekaligus kepada dunia: membuka pintu bagi penyelesaian diplomatik, namun memberikan garansi harga yang sangat mahal jika Washington kembali melancarkan serangan.
Rentetan serangan militer AS dan respons gertakan keras dari Iran ini kembali meningkatkan eskalasi serta risiko keamanan di Selat Hormuz. Kondisi ini membuat prospek stabilisasi pasokan minyak global serta penyelesaian diplomasi diperkirakan berjalan semakin sulit.
Stay Updated
Follow Cryptowave di Google News
Dapatkan berita kripto, blockchain, dan WEB3 terbaru setiap hari langsung dari Google News Cryptowave.