​Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan pihaknya belum menerima pemberitahuan resmi dari Amerika Serikat terkait penolakan proposal negosiasi Selat Hormuz. Pernyataan ini disampaikan Araghchi pada Sabtu (26/9) melalui siaran televisi nasional IRIB untuk merespons sikap Washington yang enggan menyetujui tawaran tersebut. Melansir laporan Bloomberg per Minggu (27/9), Araghchi menyebutkan mediator dari Qatar dan Pakistan belum menyampaikan keputusan akhir pihak AS, sembari menegaskan bahwa jalur diplomasi merupakan satu-satunya cara mengakhiri kebuntuan.
​Langkah Araghchi ini merespons pernyataan Presiden Donald Trump yang sebelumnya secara terbuka menolak proposal jalan menuju negosiasi tujuh hari yang diajukan Iran. Trump menilai tawaran tersebut diajukan hanya karena kondisi lawan mulai terdesak oleh dampak perang dan pembatasan ekonomi. Selain itu, laporan The Wall Street Journal mengindikasikan Trump masih meragukan komitmen Iran dan bahkan mempertimbangkan opsi untuk melancarkan kembali serangan udara setelah pemilu sela AS pada November mendatang.
​Di saat yang sama, Pemerintah Iran memilih tetap pada pendirian awalnya. Iran baru akan membuka kembali Selat Hormuz jika tuntutan penghentian agresi militer, pencabutan blokade pelabuhan, serta penghapusan sanksi ekonomi dipenuhi terlebih dahulu.
​Saat ini, kondisi pasar komoditas global masih dibayangi risiko gangguan logistik energi. Harga minyak mentah acuan Brent bertahan di level $104 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berada di kisaran $92 per barel seiring eskalasi ketegangan geopolitik yang masih berlangsung.



