

.png)
.png)

Bank of Japan mulai secara agresif mengurangi ukuran neraca keuangannya, menandai fase lanjutan dari kebijakan quantitative tightening. Porsi kepemilikan obligasi pemerintah Jepang atau Japanese Government Bonds oleh BoJ kini turun ke sekitar 48 persen dari total yang beredar, level terendah dalam delapan tahun terakhir.
Persentase tersebut telah menyusut sekitar tujuh poin sejak mencapai puncaknya pada 2022. Sejalan dengan itu, BoJ memangkas pembelian JGB bulanan dari 5,7 triliun yen pada pertengahan 2024 menjadi sekitar 2,9 triliun yen saat ini. Di bawah program QT yang berjalan, pembelian obligasi diperkirakan kembali turun hingga sekitar 2,1 triliun yen per bulan pada awal 2027.
Tekanan di pasar obligasi Jepang diperparah oleh penurunan kepemilikan JGB oleh investor asing, yang kini berada di kisaran 12 persen dari total, mendekati level terendah sejak 2019. Kondisi ini menunjukkan bahwa baik BoJ maupun investor global sama sama mengurangi eksposur terhadap obligasi pemerintah Jepang secara bersamaan.
Situasi tersebut menjaga pasar obligasi Jepang tetap berada di bawah tekanan serius dan berpotensi memicu efek rambatan ke pasar keuangan global. Jepang selama ini berperan sebagai salah satu sumber likuiditas utama dunia, sehingga kenaikan imbal hasil JGB dapat memicu penyesuaian ulang portofolio lintas aset.
Bagi pasar kripto, dinamika ini memiliki relevansi langsung. Kenaikan imbal hasil obligasi dan pengetatan likuiditas global cenderung menekan aset berisiko, termasuk Bitcoin dan aset digital lainnya. Perubahan arah kebijakan BoJ berpotensi meningkatkan volatilitas global, membuat pasar kripto lebih sensitif terhadap arus likuiditas dan pergeseran sentimen risiko dalam beberapa waktu ke depan.