​Bank Sentral India (Reserve Bank of India/RBI) menegaskan kembali sikap kehati-hatiannya terhadap aset kripto terdesentralisasi. Kendati demikian, otoritas moneter tersebut tetap membuka pintu dan mendukung penuh pengembangan teknologi pendukung seperti distributed ledger, serta proyek mata uang digital bank sentral (CBDC).
​Gubernur RBI Sanjay Malhotra menyampaikan dalam Konferensi Ekonomi Kautilya di New Delhi pada Jumat (3/10) bahwa kehati-hatian ini diambil demi menjaga kedaulatan moneter, stabilitas kebijakan, serta mengelola arus modal secara efektif. Di sisi lain, RBI secara aktif memanfaatkan teknologi dasar blockchain untuk instrumen keuangan resmi melalui kerja sama publik-swasta.
​Langkah progresif terlihat dari uji coba tokenisasi obligasi korporasi dan sertifikat deposito yang diselesaikan melalui kerja sama dengan Dewan Sekuritas dan Bursa India (SEBI). Program tersebut menggunakan infrastruktur digital untuk pencatatan sekuritas, sementara kliring transaksinya tetap menggunakan mata uang resmi bank sentral guna memastikan integritas finansial tetap terjaga.
​Di luar ranah inovasi teknologi perbankan, penegakan hukum terhadap kepatuhan aset digital di India juga semakin diperketat. Unit Intelijen Keuangan India (FIU-IND) baru-baru ini melayangkan sanksi serta peringatan tegas kepada sejumlah bursa kripto global yang beroperasi tanpa memenuhi regulasi anti-pencucian uang (AML) yang berlaku di yurisdiksi domestik.



