


Implementasi update jaringan Ethereum yang dikenal sebagai upgrade "Fusaka" telah berhasil mereduksi biaya transaksi secara signifikan. Namun, efisiensi biaya tersebut justru dimanfaatkan oleh aktor jahat untuk meluncurkan serangan Address Poisoning dalam skala besar. Data terbaru menunjukkan frekuensi serangan ini melonjak lebih dari lima kali lipat, dari rata-rata 30.000 menjadi 167.000 transaksi penipuan per hari sejak biaya gas menurun.
​Address Poisoning merupakan skema penipuan yang menargetkan kelalaian pengguna dalam memverifikasi alamat wallet kripto. Modus ini dilakukan dengan mengirimkan transaksi aset bernilai nol dari alamat palsu yang telah dimodifikasi agar memiliki karakter awal dan akhir yang identik dengan alamat milik korban. Tujuannya adalah untuk "meracuni" riwayat transaksi terbaru korban, sehingga investor kripto secara tidak sengaja menyalin alamat jebakan tersebut saat hendak melakukan transfer aset di masa mendatang.
​Akibat lonjakan aktivitas ilegal ini, total kerugian investor kripto secara global dilaporkan menembus angka $63,3 juta atau nyaris setara Rp1 triliun. Para pakar keamanan siber menekankan bahwa mayoritas wallet kripto saat ini belum memiliki proteksi otomatis terhadap anomali ini. Pengguna sangat disarankan untuk melakukan verifikasi karakter alamat tujuan secara menyeluruh dan menghindari penggunaan riwayat transaksi sebagai sumber referensi penyalinan alamat guna memitigasi risiko kehilangan aset secara permanen.