Reli harga Bitcoin melesat kian agresif setelah meroket lebih dari 7% hingga resmi menyentuh level harga $69.000 per BTC pada Rabu (19/8). Lonjakan tajam ini membawa BTC bertengger di level harga tertingginya sejak 2 Juni lalu, dipicu oleh membaiknya selera risiko global menyusul langkah Departemen Keuangan AS (US Treasury) yang melipatgandakan program buyback obligasi menjadi minimal $4 miliar. Masuknya sinyal pelonggaran likuiditas makro tersebut langsung memicu fenomena short squeeze masif di bursa derivatif.
​Data likuidasi mencatat gejolak harga ekstrem tersebut membakar habis posisi short senilai lebih dari $1,2 miliar hanya dalam kurun waktu 60 menit. Likuidasi massal ini memicu efek domino pembelian paksa di berbagai bursa kripto utama, menyapu bersih seluruh pesanan jual dan mempercepat laju kenaikan harga ke atas area konsolidasi.
​Sentimen bullish akibat injeksi likuiditas dan penutupan paksa posisi short ini langsung merembet ke aset utama lainnya, di mana Ethereum (ETH) ikut melompat 10% dan berhasil menembus angka $2.100 per ETH. Sentimen masuknya modal segar secara serentak di pasar spot dan bursa berjangka kian memperkuat reli hijau di seluruh ekosistem kripto.



