


Chief Executive Officer Coinbase, Brian Armstrong, menyampaikan prediksinya mengenai potensi ancaman siber yang dipicu oleh perkembangan kecerdasan buatan. Lewat unggahan di platform media sosial X pada Jumat (14/8), Armstrong menilai dunia harus bersiap menghadapi kemungkinan munculnya model AI yang beroperasi tanpa kendali (rogue AI) di jaringan internet dalam kurun waktu satu hingga dua tahun mendatang.
​Armstrong memprediksi bahwa ketika insiden AI liar tersebut benar-benar terjadi, peristiwa itu akan menciptakan sensasi besar di media massa. Publik diproyeksikan bakal merespons dengan kepanikan luar biasa yang disertai oleh desakan masif dari berbagai pihak untuk menghentikan seluruh pengembangan teknologi kecerdasan buatan secara total.
​Ancaman tersebut dianfologikan dengan peristiwa Morris Worm pada tahun 1988, yaitu malware komputer pertama yang menyebar luas secara terdistribusi di jaringan internet awal. Diciptakan oleh mahasiswa Robert Tappan Morris, kode tersebut awalnya hanya dirancang untuk mengukur skala internet, namun kekeliruan logika program justru melumpuhkan sekitar 10 persen komputer yang terkoneksi saat itu dan memicu lahirnya tim tanggap darurat siber modern seperti CERT.
​Kendati memprediksi munculnya kekacauan serupa, Armstrong mengimbau masyarakat dan pelaku industri untuk tidak merespons secara berlebihan. Menurutnya, sejarah membuktikan bahwa manusia selalu berhasil beradaptasi dengan menghadirkan sistem pertahanan baru yang lebih tangguh, sehingga insiden AI tersebut pada akhirnya hanya akan menjadi riak kecil dalam perjalanan evolusi teknologi global.
Stay Updated
Follow Cryptowave di Google News
Dapatkan berita kripto, blockchain, dan WEB3 terbaru setiap hari langsung dari Google News Cryptowave.