

.png)
.png)

CEO BlackRock Larry Fink menilai kebiasaan hanya menabung tanpa berinvestasi dapat membuat banyak orang kesulitan menikmati masa pensiun yang layak. Menurutnya, jutaan orang menghadapi apa yang ia sebut sebagai "krisis dalam senyap", yakni kondisi ketika dana pensiun tidak mampu mengimbangi inflasi dan meningkatnya biaya hidup.
Mengutip surat tahunan kepada pemegang saham BlackRock, Fink mengatakan banyak masyarakat menyimpan terlalu banyak uang di rekening bank, tetapi terlalu sedikit mengalokasikannya ke instrumen investasi.
"Di beberapa negara, orang-orang justru menabung secara berlebihan tetapi kurang berinvestasi. Jika mereka menyimpan uang di bank alih-alih berinvestasi di pasar, mereka tidak akan menghasilkan imbal hasil yang diperlukan untuk pensiun dengan bermartabat," tulis Fink.
Ia menilai masyarakat perlu mulai memikirkan cara agar uang dapat berkembang melalui investasi, bukan hanya disimpan di tabungan. Menurutnya, inflasi, meningkatnya biaya kesehatan, serta harapan hidup yang semakin panjang membuat tabungan saja tidak lagi cukup untuk menopang kebutuhan pensiun.
Selain kurangnya investasi, Fink menyebut ketidakpastian ekonomi turut membuat banyak orang enggan mengambil langkah untuk membangun kekayaan. Padahal, menurutnya, investasi merupakan salah satu cara untuk memanfaatkan pertumbuhan nilai aset dalam jangka panjang.
Sebagai ilustrasi, Fink mengungkapkan bahwa indeks S&P 500 secara historis mampu menghasilkan imbal hasil rata-rata sekitar 8% hingga 10% per tahun dalam jangka panjang, lebih tinggi dibandingkan bunga tabungan. Ia juga menilai kemajuan teknologi telah membuat akses terhadap saham, ETF, maupun reksa dana menjadi jauh lebih mudah dan terjangkau dibandingkan sebelumnya.
Karena itu, Fink mendorong masyarakat untuk mulai berinvestasi sedini mungkin agar dapat memanfaatkan efek pertumbuhan majemuk (compound growth), yang menurutnya menjadi salah satu faktor penting dalam membangun keamanan finansial untuk masa pensiun.