Pasar saham semikonduktor global dan bursa saham Korea Selatan (KOSPI) tertekan pada Selasa (13/10) setelah produsen chip asal China, ChangXin Memory Technologies (CXMT), mengumumkan kemajuan teknologi memori baru bernama 4F² DRAM. CXMT menargetkan peluncuran memori server DDR5 berbasis teknologi ini pada akhir 2026, yang berpotensi menyalip jadwal produsen raksasa seperti Samsung hingga dua tahun lebih cepat. Kabar ini memicu kekhawatiran para pemegang saham akan potensi banjir pasokan chip murah dari China yang bisa mengikis pendapatan produsen memori lainnya.
​Kepanikan pasar semakin memuncak setelah Elon Musk memberikan komentarnya di X pada (12/10). Musk menilai bahwa ketika China berhasil menguasai cara pembuatan suatu produk massal seperti RAM standar (LPDDR5/LPDDR6), kemampuan mereka dalam memperbanyak produksi bisa melampaui gabungan seluruh negara di dunia, seperti yang pernah terjadi pada industri baterai litium dan panel surya. Namun, Musk memberi catatan bahwa untuk teknologi tingkat tinggi seperti High Bandwidth Memory (HBM) yang dipakai pada teknologi AI, China masih butuh waktu lama untuk bisa menirunya.
​Di sisi lain, beberapa pengamat pasar menganggap aksi jual saham produsen memori seperti Micron, Samsung, SK Hynix, dan SanDisk ini terlalu berlebihan. Sebab, mengumumkan teknologi baru berbeda jauh dengan kemampuan memproduksinya secara massal dengan harga murah. Lagi pula, permintaan chip untuk kebutuhan industri AI saat ini masih sangat tinggi.
Meski begitu, anjloknya saham di Korea Selatan ikut merembet ke pasar kripto; menurut analisis Tom Lee, gelombang likuidasi dan penarikan dana di bursa saham Korea memaksa banyak investor melepas aset kripto mereka. Kombinasi kepanikan ini sempat membuat harga Bitcoin (BTC) merosot ke level $81.000 pada (13/10) pagi sebelum akhirnya memantul kembali ke kisaran $83.000.



