Laporan Chainalysis yang dirilis 30 September 2026 mengukuhkan Singapura sebagai pusat kripto utama di Asia Tenggara. Volume aktivitas kripto Singapura melonjak capai $284,1 miliar, atau naik 55,4% dibanding tahun sebelumnya. Lonjakan ini kontras dengan total aktivitas kripto di Asia Tenggara yang justru terkoreksi 6,8%.
​Pendorong utama lonjakan tersebut berasal dari segmen institusi yang nilainya meroket 94% menjadi $60,0 miliar. Pertumbuhan platform khusus institusi yang mencakup market maker, broker khusus, desk Over-The-Counter (OTC), hingga bursa resmi ini jauh melampaui rata-rata kawasan Asia Tenggara (19%) maupun global (15%).
​Data ini membuktikan pasar Singapura kini didominasi pengelolaan dana perusahaan, penyedia likuiditas, dan lalu lintas pembayaran aset digital skala besar, bukan transaksi ritel harian. Kepastian regulasi dari Otoritas Keuangan Singapura (MAS) menjadi faktor kunci yang memberi rasa aman bagi lembaga keuangan besar untuk menanamkan modal masif.
​Selain itu, laporan ini menyoroti dominasi stablecoin untuk transaksi lintas batas negara yang volumenya 3,2 kali lebih besar dibanding penggunaan domestik. Kondisi ini memperjelas kontras di Asia Tenggara: Singapura kokoh sebagai pusat modal institusi, sementara negara tetangganya dominan memanfaatkan kripto dan stablecoin untuk remitansi serta transaksi harian kecil.



