Senat Amerika Serikat akan menghadapi voting krusial terkait CLARITY Act pada Selasa, 15 September 2026. RUU yang menjadi salah satu upaya terbesar AS membangun kerangka regulasi pasar kripto tersebut membutuhkan sedikitnya 60 suara untuk dapat maju ke tahap pembahasan berikutnya.
Menjelang voting, Presiden Donald Trump menyetujui sebagian besar proposal etik bipartisan yang menjadi salah satu hambatan utama dalam negosiasi. Menurut tiga senator Republik yang terlibat dalam penyusunan RUU, Trump menerima sekitar 80% proposal yang didorong Senator Republik Thom Tillis dan Senator Demokrat Ruben Gallego.
Proposal tersebut memperketat aturan konflik kepentingan terkait kepemilikan dan bisnis kripto pejabat federal. Salah satu perubahan penting memungkinkan jaksa agung negara bagian ikut menegakkan aturan, selain Departemen Kehakiman AS. Ketentuan lainnya dapat mewajibkan divestasi atau penggunaan blind trust untuk kepemilikan kripto tertentu yang bernilai besar.
Voting Selasa bukanlah pengesahan akhir CLARITY Act, melainkan cloture vote untuk membuka pembahasan resmi di lantai Senat. Dengan Partai Republik menguasai 53 kursi, dukungan bipartisan tetap dibutuhkan untuk mencapai ambang 60 suara, terlebih jika terdapat senator Republik yang menolak.
CLARITY Act dirancang untuk memberikan kepastian mengenai pembagian kewenangan pengawasan aset digital antara SEC dan CFTC serta mengatur sejumlah aktivitas pasar kripto dan DeFi. RUU ini sebelumnya telah lolos DPR AS dengan suara 294-134 pada Juli 2025.


.png)
