


​Firma riset milik Binance melaporkan bahwa pelemahan harga Bitcoin saat ini dipicu oleh konsentrasi modal yang masif ke sektor saham unggulan di Amerika Serikat, terutama pada sektor kecerdasan buatan , pertahanan, dan energi. Kondisi ini tercermin dari CBOE Dispersion Index yang mencapai level 42 yang menunjukkan bahwa arus masuk modal investor terpusat pada kelompok saham tertentu, sehingga menciptakan efek black hole yang menyerap likuiditas dari aset berisiko tinggi seperti Bitcoin.
​Pola rotasi modal ini bukanlah hal baru, di mana secara data historis menunjukkan Bitcoin cenderung melemah saat terjadi perpindahan dana besar ke sektor ekuitas tertentu, seperti yang pernah terjadi pada rotasi saham FAANG di tahun 2015 dan 2016 serta reli saham energi pada 2022. Saat ini, Bitcoin pun harus menghadapi tekanan tambahan dari outflow ETF sebesar $3,4 miliar dalam 11 sesi terakhir serta masih tidak pastinya situasi kondisi geopolitik dan makroekonomi global.
​Meski demikian, firma riset milik Binance tersebut memberikan pandangan yang relatif konstruktif dengan mencatat bahwa market kripto saat ini tidak sedang mengalami krisis internal industri yang berat. Mengingat minimnya krisis native kripto dibandingkan kejadian di masa lalu, market diprediksi berpotensi mengalami recovery lebih cepat dengan median waktu pemulihan historis berkisar di angka dua minggu setelah indeks dispersi mencapai puncaknya.