


​Raksasa manajemen aset global, Franklin Templeton, menilai investor yang mengincar peluang kecerdasan buatan (AI) hanya melalui pasar saham berisiko melewatkan potensi besar pada fase berikutnya. Dalam publikasi resminya di platform X pada Selasa (21/7), Head of Digital Assets and Innovation Franklin Templeton, Sandy Kaul, menegaskan bahwa kepemilikan aset kripto dan altcoin akan menjadi kunci utama untuk menangkap nilai ekonomi dari agen AI otonom atau agentic AI yang bertransaksi di dalam jaringan blockchain.
​Kaul menjelaskan bahwa infrastruktur pembayaran tradisional seperti kartu kredit tidak dirancang untuk menangani mikro-transaksi antar-mesin (machine-to-machine). Transaksi kartu kredit rata-rata mengenakan biaya 2-3% ditambah biaya tetap sekitar $0,30. Nilai ini sangat tidak efisien untuk transaksi agen AI yang memerlukan eksekusi mikro hingga $0,001 per detik untuk membeli daya komputasi atau kueri data. Ketidakcocokan ini memaksa ekonomi agen AI beroperasi di atas blockchain, di mana setiap aktivitas membutuhkan pembayaran native token seperti Solana (SOL) sebagai biaya jaringan.
​Franklin Templeton mencatat bahwa nilai perdagangan berbasis agen AI ini diproyeksikan melonjak hingga $5 triliun pada tahun 2030 mendatang. Seiring hadirnya standar pembayaran baru dari Coinbase, Stripe, hingga Visa yang memungkinkan perangkat lunak saling bertransaksi secara mandiri, kepemilikan token blockchain diprediksi menjadi instrumen vital dalam portofolio investasi masa depan. Kendati demikian, Franklin Templeton mengingatkan bahwa investasi aset digital tetap memiliki risiko tinggi dan proyeksi pasar dapat berubah sewaktu-waktu.