


​Data on-chain menunjukkan adanya perbedaan besar antara pergerakan harga Ethereum dengan tingkat kepercayaan para pemegang aset jangka panjangnya. Melansir laporan riset dari the block pada Senin (18/5) waktu setempat, jumlah ETH yang dikunci di staking dalam jaringan kini telah merangkak naik hingga menyentuh angka 31 persen dari total seluruh suplai dunia. Padahal di awal tahun, angka tersebut baru berada di kisaran 29 persen. Tren akumulasi ini terus berjalan stabil meskipun performa harga di market sepanjang tahun ini justru telah mengalami koreksi yang cukup dalam sekitar 26 persen.
​Peningkatan aktivitas staking ini secara otomatis memangkas jumlah token liquid yang beredar di market. Kelangkaan pasokan ini dinilai sebagai fondasi kuat bagi pemulihan harga aset ke depan jika permintaan market kembali pulih. Kemudahan ini juga didorong oleh kehadiran protokol liquid staking seperti Lido, yang memungkinkan para investor ritel maupun institusi mengunci aset mereka untuk mendapatkan imbal hasil tanpa harus mengorbankan likuiditas aset tersebut.
​Meskipun posisi Ethereum saat ini sangat dominan dalam infrastruktur keuangan terdesentralisasi (DeFi) dan market aset dunia nyata yang ditokenisasi (RWA), market global tampaknya masih meragukan potensi pertumbuhannya yang masih berada di tahap awal. Seberapa cepat Ethereum bisa mengubah data fundamental yang positif ini menjadi kenaikan harga yang riil akan sangat bergantung pada seberapa agresif dana institusi mulai masuk ke dalam ekosistem ini melalui produk spot ETF yang kian matang.