

.png)
.png)

Para eksekutif industri energi memperingatkan bahwa harga minyak berpotensi tetap berada di level tinggi meskipun Selat Hormuz telah kembali dibuka setelah meredanya konflik di Timur Tengah.
Menurut laporan Wall Street Journal, salah satu faktor utama yang menjadi perhatian adalah menipisnya cadangan minyak Amerika Serikat. Pelaku industri memperkirakan diperlukan waktu berbulan-bulan untuk mengisi kembali persediaan yang telah terkuras selama periode ketidakpastian geopolitik dan gangguan pasokan energi global.
Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran energi paling penting di dunia yang menghubungkan produsen minyak utama di Timur Tengah dengan pasar global. Sebelumnya, kekhawatiran mengenai gangguan distribusi melalui jalur tersebut sempat memicu lonjakan harga minyak dan meningkatkan volatilitas pasar energi.
Meski kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran telah mengurangi risiko gangguan pasokan, para pelaku industri menilai pasar masih menghadapi tantangan struktural. Salah satunya adalah rendahnya tingkat persediaan energi yang membuat sistem pasokan global lebih rentan terhadap guncangan baru.
Kondisi ini berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap inflasi global. Harga energi yang tinggi dapat meningkatkan biaya transportasi, manufaktur, dan logistik, yang pada akhirnya memengaruhi harga berbagai barang dan jasa di seluruh dunia.