asset coin leftasset coin right
📩 Stay Ahead in Crypto!🔥
Get expert insights & alerts straight to your inbox — join our newsletter now!
Dark Mode
ALLOUSDT0.4252+0.1161 ( +37.56% )
BTCUSDT63,622.0+1361.63 ( +2.19% )
DUSDT0.00583+0.00028 ( +5.05% )
EPICUSDT0.469-0.246 ( -34.41% )
ETHUSDT1,686.32+50.97 ( +3.12% )
HEIUSDT0.0924-0.0005 ( -0.54% )
HOMEUSDT0.03239+0.00045 ( +1.41% )
HYPEUSDT64.19+5.19 ( +8.79% )
SOLUSDT67.1+1.65 ( +2.52% )
Powered by
News

Houthi Deklarasikan Blokade Kapal Israel di Laut Merah

User
June 8, 2026 | 23:25 WIB
User
UpdatedDwi Cahyo
June 8, 2026 | 23:25 WIB
Houthi Deklarasikan Blokade Kapal Israel di Laut Merah

​Kelompok milisi Ansarallah atau Houthi dari Yaman resmi mengumumkan blokade laut secara total terhadap Israel di kawasan Laut Merah pada Senin (8/6). Efektif segera, Angkatan Bersenjata Yaman mendeklarasikan bahwa seluruh pergerakan maritim yang terafiliasi dengan Israel kini berstatus sebagai target militer yang sah.

​Langkah agresif ini dibarengi dengan peluncuran rentetan rudal yang menargetkan sejumlah titik vital di Jaffa, wilayah yang diduduki Israel. Serangan tersebut diklaim sebagai respons langsung terhadap agresi militer Israel baru-baru ini di wilayah Gaza, Lebanon, dan Iran. Dalam pernyataan resminya, Houthi menegaskan prinsip eskalasi dibalas eskalasi dan berjanji tidak akan menghentikan operasi mereka selama agresi di wilayah-wilayah sekutu tersebut masih berlanjut.

​Deklarasi blokade ini langsung memicu peringatan keras terkait stabilitas ekonomi dan rantai pasok global. Mengutip laporan dari Bloomberg dan New York Post, area operasi Houthi mencakup Selat Bab el-Mandeb, yakni sebuah chokepoint vital yang diapit oleh Yaman, Djibouti, dan Eritrea di mulut Laut Merah.

​Selat strategis tersebut merupakan salah satu urat nadi utama perdagangan dunia. Setiap harinya, sekitar 3,3 juta barel minyak mentah harus melintasi perairan tersebut. Secara keseluruhan, jalur ini menopang sekitar 12 persen dari total volume perdagangan laut global, sehingga gangguan di titik ini berpotensi memicu guncangan logistik dan lonjakan harga komoditas dalam jangka pendek.

​Sementara itu, di tengah eskalasi geopolitik tersebut, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran justru mengumumkan penghentian operasi militernya terhadap Israel pada Senin (8/6). Keputusan ini diambil usai terjadinya serangkaian aksi saling serang antara kedua belah pihak. Meski menghentikan serangan darat maupun udaranya, IRGC memberikan peringatan tegas bahwa setiap serangan lanjutan oleh Israel di wilayah Iran maupun Lebanon akan memicu respons balasan yang jauh lebih kuat dan dahsyat.

Copiedbagikan