


​Perusahaan jasa pemakaman asal Korea Selatan, Bumo Sarang, terungkap rugi besar sampai 49,3 miliar won atau sekitar $32,7 juta. Laporan audit terbaru yang dirilis pada Rabu (20/5) mengungkap bahwa manajemen perusahaan nekat memutar uang titipan pemakaman milik nasabah sebesar $40 juta ke produk T-REX 2X Long BMNR Daily Target ETF (BMNU), yang melacak saham treasury Ethereum, BitMine.
​Langkah spekulatif ini berujung fatal karena sistem leverage melipatgandakan kerugian perusahaan saat market kripto terkoreksi. Parahnya lagi, BitMine yang dipimpin Tom Lee baru saja melaporkan kerugian kuartalan fantastis sebesar $34,8 miIiar. Kasus ini langsung membuat geger publik Korea Selatan karena dana yang hangus merupakan uang persiapan kematian para konsumen. Skandal Bumo Sarang ini akhirnya membongkar borok industri lokal, dimana data pemerintah mencatat 43% perusahaan sejenis di sana ternyata punya aset yang lebih sedikit ketimbang total setoran nasabahnya.
​Meski kerugian ini masih berupa floating loss, posisi keuangan Bumo Sarang kini berada di ujung tanduk dan terancam gagal memenuhi kewajiban layanan pemakaman di masa depan. Sampai sekarang, manajemen perusahaan belum memberikan penjelasan apa pun terkait nasib sisa uang konsumen yang tersisa di ekosistem etf kripto tersebut. Insiden ini membuat para pengamat mendesak agar pengawasan bisnis pemakaman prabayar segera dialihkan ke regulator keuangan demi melindungi dana masyarakat.