


Iran dilaporkan mulai menerapkan kebijakan agresif dengan menarik biaya keamanan hingga $2 juta bagi setiap kapal tanker minyak yang melintasi Selat Hormuz. Berdasarkan laporan Bloomberg pada Selasa (24/3), manuver ini merupakan upaya Iran untuk mengontrol penuh jalur distribusi minyak paling krusial di dunia, sekaligus memberikan tekanan kepada pihak Amerika Serikat. Kebijakan ini disinyalir tidak hanya akan menjadi sumber pendanaan perang bagi Iran, tetapi juga ancaman nyata yang dapat memicu lonjakan biaya logistik dan inflasi energi global secara instan.
Selain itu, dari pihak Arab Saudi, tensi kian memanas seiring desakan Putra Mahkota Mohammed bin Salman (MBS) kepada Presiden Trump untuk terus melanjutkan operasi militer di Iran. Laporan NYT mengungkap bahwa MBS melihat situasi ini sebagai peluang untuk merombak peta kekuatan di Timur Tengah dan melumpuhkan ancaman jangka panjang dari Iran. Dengan Selat Hormuz yang kini berubah menjadi jalur berbayar dan tekanan diplomatik dari sekutu regional, risiko eskalasi militer untuk merebut infrastruktur energi Iran kini berada pada titik tertinggi.