


​Media pemerintah Iran mulai membocorkan poin-poin awal nota kesepahaman terkait rencana kesepakatan damai dengan Amerika Serikat. Berdasarkan draf sepihak tersebut, militer AS diklaim akan menarik pasukannya dari sekitar Iran, diikuti pencabutan blokade Selat Hormuz oleh Angkatan Laut AS. Sebagai timbal balik, Iran berkomitmen memulihkan lalu lintas kapal dagang komersial di jalur selat strategis itu hingga ke level pra-perang dalam waktu satu bulan, di bawah pengelolaan bersama Oman.
​Namun, klaim sepihak tersebut langsung dimentahkan oleh Presiden Donald Trump. Dalam wawancara singkat via telepon dengan PBS News pada Rabu (27/5) waktu setempat, Trump menegaskan dirinya masih belum puas dan menolak memberikan relaksasi sanksi ekonomi meskipun Iran setuju menyerahkan cadangan uranium yang diperkaya. Di samping menuntut kepatuhan nuklir penuh tanpa imbal balik sanksi, Trump juga terus menekan negara-negara Arab seperti Arab Saudi untuk segera menormalisasi hubungan dengan Israel melalui Abraham Accords.
​Rangkaian pernyataan kontras ini langsung menciptakan volatilitas di market komoditas global. Pada awalnya, harga minyak mentah AS terkoreksi ke level $89 per barel karena market berekspektasi kesepakatan damai nyaris tercapai pasca rilis draf dari Iran. Namun, harga komoditas energi tersebut berpotensi berbalik arah dan naik kembali setelah pernyataan keras Trump memicu kekhawatiran baru bahwa resolusi konflik di Timur Tengah masih akan berjalan alot.