


​Bank Sentral Eropa (ECB) menolak keras usulan lembaga think tank Bruegel untuk melonggarkan persyaratan likuiditas dan membuka akses pendanaan bagi penerbit stablecoin berdenominasi Euro. Presiden ECB, Christine Lagarde, bersama sejumlah gubernur bank sentral memperingatkan bahwa langkah tersebut dapat mengganggu stabilitas pendanaan perbankan tradisional serta melemahkan kapasitas penyaluran kredit.
​Usulan pelonggaran ini awalnya diajukan Bruegel agar pasar stablecoin Euro bisa tumbuh kompetitif. Saat ini, pasokan token berdenominasi Euro sangat minim, hanya menyumbang 0,3% dari total pasar stablecoin global senilai $300 miliar. Bruegel khawatir ketatnya regulasi Markets in Crypto-Assets (MiCA) Eropa dibanding regulasi Amerika Serikat bakal memicu "dolarisasi digital".
​Namun, Lagarde menegaskan bahwa urgensi mempromosikan stablecoin Euro tidak sebanding dengan risiko stabilitas keuangan yang dipertaruhkan. Di tengah perdebatan ini, sektor swasta bergerak mandiri; konsorsium Qivalis yang didukung 37 bank Eropa bersiap meluncurkan stablecoin Euro patuh MiCA pada paruh kedua 2026. Sementara itu, ECB tetap memprioritaskan pengembangan Digital Euro yang ditargetkan meluncur pada 2029.