


Presenter CNBC Jim Cramer mengejutkan pasar setelah menyatakan niatnya untuk menjual seluruh kepemilikan Bitcoin (BTC) miliknya dalam siaran Mad Money pada 31 Juli lalu. Langkah ini dipicu langsung oleh wawancaranya dengan CEO IBM, Arvind Krishna, yang menegaskan bahwa komputasi kuantum akan memberikan dampak bisnis nyata pada rentang tahun 2028 hingga 2029. Mengutip garis waktu tersebut, Cramer mendesak para investor kripto agar mewaspadai ancaman enkripsi jaringan:
"Saya akan menjual Bitcoin saya. Anda harus mulai merasa paranoid soal hal ini dalam 3 tahun ke depan".
​Meskipun Krishna menyoroti terobosan kuantum untuk efisiensi material dan energi, serta proyeksi nilai industri mencapai $1 triliun pada akhir 2030-an, komunitas kripto merespons kekhawatiran Cramer dengan aksi sebaliknya. Sinyal panik dari sang presenter justru memicu aksi akumulasi beli (buy the dip) dari kalangan traders yang memanfaatkan pola Inverse Cramer Effect. Selain itu, para developer jaringan Bitcoin dinilai telah mengantisipasi risiko tersebut melalui pengembangan standar kriptografi pasca-kuantum yang diyakini jauh sebelum komputasi kuantum komersial mampu mengancam keamanan blockchain.
​Di samping belum adanya verifikasi data on-chain terkait kepemilikan wallet Bitcoin milik Cramer, pernyataan jual saat Bitcoin berada di kisaran level harga $63.500 ini semakin mempertegas pemisahan sentimen pasar. Investor ritel tradisional berpotensi cenderung terpengaruh oleh narasi ancaman kuantum yang diangkat Cramer, sementara komunitas crypto-native memandangnya sebagai sinyal hijau kontrarian untuk menambah posisi di pasar.
Stay Updated
Follow Cryptowave di Google News
Dapatkan berita kripto, blockchain, dan WEB3 terbaru setiap hari langsung dari Google News Cryptowave.