


Pemerintah Amerika Serikat dan Iran dilaporkan telah sepakat untuk menghentikan serangan militer. Berdasarkan laporan dari Axios, perwakilan dari kedua negara dijadwalkan akan menggelar pertemuan penting pada Selasa (30/6) di Doha, Qatar. Pertemuan di Doha ini diselenggarakan sebagai langkah lanjutan setelah agenda tatap muka sebelumnya yang direncanakan di Swiss pada Minggu (28/6) batal dilaksanakan. Dialog yang pada awalnya dirancang untuk membahas program nuklir ini resmi beralih fokus pada upaya menjamin keamanan pelayaran kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz.
​Terkait agenda tersebut, Menteri Luar Negeri Iran, Araghchi, secara tegas menyatakan bahwa Iran memegang kendali dan tanggung jawab penuh untuk memulihkan lalu lintas Selat Hormuz ke dalam kondisi seperti sebelum perang. Ia memperingatkan bahwa campur tangan pihak eksternal justru akan mempersulit normalisasi pelayaran. TV Nasional Iran juga mengingatkan bahwa kapal komersial masih diwajibkan berkoordinasi dengan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC). Selain itu, untuk mencegah miskalkulasi di perairan tersebut, delegasi AS dan Iran di Doha juga akan membahas pembentukan jalur komunikasi militer langsung.
​Kesepakatan de-eskalasi antara AS dan Iran ini rupanya turut bersinggungan langsung dengan dinamika konflik di kawasan Timur Tengah, khususnya di perbatasan Lebanon. Di saat proses diplomasi ini berjalan, Israel menyatakan telah menghancurkan infrastruktur bawah tanah Hizbullah di wilayah selatan Lebanon pada Senin (29/6) dan telah menginformasikan operasi tersebut kepada pihak AS. Merespons rentetan eskalasi ini, Menlu Araghchi menegaskan bahwa penghentian serangan serta penarikan mundur pasukan Israel dari Lebanon pada dasarnya adalah mandat dari kesepakatan sementara antara AS dan Iran.