


​Donald Trump, mengklaim bahwa proses negosiasi damai dengan Iran saat ini tengah berjalan dengan sangat baik. Melalui unggahan di platform Truth Social miliknya pada Senin (25/5), Trump menegaskan bahwa kesepakatan ini harus menjadi kesepakatan besar yang menguntungkan semua pihak. Jika tidak, ia menyatakan lebih baik tidak ada kesepakatan sama sekali.
​Sejalan dengan perkembangan tersebut, Trump mendesak negara-negara di kawasan Timur Tengah untuk segera memperluas stabilitas politik regional. Ia menyerukan agar negara-negara Arab dan Muslim, khususnya Arab Saudi dan Qatar, segera menandatangani Abraham Accords demi menormalisasi hubungan diplomatik secara menyeluruh, bahkan membuka peluang bagi Iran untuk ikut serta dalam koalisi perdamaian tersebut.
​Di saat yang sama, proses diplomasi terus bergerak secara paralel di lapangan. Melansir laporan eksklusif dari Reuters pada Senin (25/5), seorang pejabat yang mendapatkan pengarahan terkait kunjungan tersebut mengungkapkan bahwa Pimpinan parlemen Iran, Qalibaf, serta Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi saat ini telah berada di Doha untuk menggelar diskusi langsung dengan Perdana Menteri Qatar guna membahas potensi kesepakatan akhir dengan AS.
​Menurut sumber Reuters tersebut, pembicaraan intensif di Doha ini berfokus utama pada masalah pembukaan kembali Selat Hormuz dan pengelolaan persediaan uranium yang diperkaya. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyatakan bahwa draf nota kesepahaman (MoU) yang berisi 14 poin ini difokuskan untuk mengakhiri perang serta menghentikan blokade laut AS, dengan imbalan jaminan keamanan transit di jalur selat strategis tersebut.