Pemerintah Etiopia memangkas pasokan listrik untuk miner Bitcoin hingga tersisa 23% dari kuota kontrak menyusul kekeringan parah akibat fenomena El Niño. Penurunan debit air waduk pembangkit listrik tenaga air (PLTA) sebesar 20% memaksa penyedia listrik negara, Ethiopian Electric Power (EEP), memprioritaskan pasokan bagi rumah tangga dan sektor industri nasional. Kebijakan ini berdampak signifikan pada struktur pendapatan EEP, mengingat industri mining Bitcoin menyumbang 35% dari total pendapatan badan usaha tersebut dan mengonsumsi sekitar sepertiga daya listrik nasional.
Direktur Utama EEP, Ashebir Balcha, menyatakan bahwa evaluasi susulan akan dilakukan pada Oktober mendatang untuk menentukan potensi pemangkasan daya lebih lanjut atau pembatasan ekspor listrik ke negara tetangga. Di luar faktor cuaca, tekanan terhadap industri mining Bitcoin global kian membayangi akibat dampak halving serta persaingan dengan sektor lain. Ekonom Saifedean Ammous menilai konsumsi energi mining Bitcoin global kemungkinan telah mencapai puncaknya pada periode 2024–2025 seiring turunnya margin keuntungan secara struktural.
Kondisi tersebut mendorong sebagian pelaku industri mengalihkan kapasitas infrastruktur dan kontrak daya mereka ke pusat data kecerdasan buatan (AI). Ketersediaan daya listrik berkapasitas besar serta jaringan konektivitas khusus menjadikan fasilitas mining Bitcoin sebagai fondasi potensial untuk mendukung beban kerja komputasi AI.



