Situasi keamanan di kawasan Timur Tengah kembali memanas setelah serangkaian ledakan kuat dilaporkan mengguncang kawasan Pulau Qeshm di Iran selatan pada Jumat (30/10). Mengutip laporan dari kantor berita Iran, Tasnim, suara ledakan tersebut diduga berasal dari aktivitas peluncuran rudal jarak pendek milik militer setempat. Dalam insiden terpisah di lokasi yang sama, Pasukan Dirgantara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengklaim berhasil mengintersepsi dan mengusir jet tempur asing yang mencoba memasuki wilayah udara Qeshm.
​Eskalasi di lapangan ini diperkuat oleh konfirmasi jurnalis senior Axios, Barak Ravid, yang melaporkan situasi tersebut melalui akun X pribadinya pada Jumat (30/10). Mengutip pejabat tinggi militer AS, Ravid mengungkapkan bahwa tindakan militer AS tersebut difokuskan sebagai bentuk "serangan pertahanan diri" (self-defense strikes) yang menargetkan fasilitas serta infrastruktur peluncur rudal milik Iran.
​Perkembangan ini bertepatan dengan laporan dari Wall Street Journal mengenai rencana pemerintahan Donald Trump untuk melancarkan serangan militer langsung ke Iran usai pelaksanaan pemilu sela (midterm elections) AS pekan depan. Indikasi tindakan militer tersebut semakin kuat setelah Komandan US CENTCOM, Laksamana Brad Cooper, menggelar pertemuan tatap muka yang tergolong langka bersama Trump di Gedung Putih untuk menyampaikan pengarahan strategi militer, menyusul sesi diskusi rahasia bersama Wakil Presiden JD Vance sebelumnya.
​Langkah eskalasi militer ini mendapat penolakan keras dari internal parlemen AS, salah satunya disuarakan oleh Senator Chris Murphy yang juga telah menerima pengarahan rahasia terkait strategi tersebut. Murphy menilai keputusan melancarkan serangan langsung ke Iran sebagai langkah yang sangat berisiko tinggi karena dipastikan akan memicu aksi balasan yang merusak serta menghancurkan komitmen terhadap hukum internasional.



