

.png)
.png)

Presiden Prancis Emmanuel Macron menyerukan agar Uni Eropa mengaktifkan instrumen anti-koersi (anti-coercion instrument), yang ia sebut sebagai “senjata dagang paling kuat” UE, sebagai respons atas ancaman tarif dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait isu Greenland.
Macron menyampaikan bahwa UE perlu menunjukkan ketegasan kolektif ketika menghadapi tekanan ekonomi sepihak dari mitra dagang besar. Menurutnya, ancaman tarif AS terhadap UE yang dikaitkan dengan dinamika geopolitik Greenland berpotensi menciptakan preseden buruk jika tidak direspons secara tegas dan terkoordinasi di tingkat Eropa.
Instrumen anti-koersi UE dirancang untuk melindungi blok tersebut dari tekanan ekonomi atau politik yang memaksa perubahan kebijakan. Jika diaktifkan terhadap Amerika Serikat, langkah ini dapat membatasi akses perusahaan AS ke pasar UE, termasuk kemungkinan memblokir bank-bank AS dari pengadaan publik UE serta menargetkan raksasa teknologi AS melalui pembatasan perdagangan dan investasi.
Sejauh ini, instrumen anti-koersi belum pernah digunakan sejak diadopsi UE, menjadikannya eskalasi kebijakan yang signifikan bila benar-benar diterapkan. Seruan Macron membuka perdebatan internal di kalangan negara anggota UE mengenai kesiapan menggunakan alat tersebut terhadap mitra strategis seperti AS, serta implikasinya terhadap hubungan transatlantik.
Ancaman tarif AS dan respons UE berpotensi meningkatkan ketegangan perdagangan global, dengan dampak lanjutan terhadap sektor keuangan, teknologi, dan rantai pasok. Pasar kini mencermati apakah UE akan melangkah lebih jauh dari pernyataan politik menuju tindakan konkret, atau memilih jalur diplomasi untuk meredakan konflik.