Militer Amerika Serikat dikabarkan tengah menyiapkan opsi operasi militer kilat selama tiga hari untuk menggempur fasilitas militer, drone, rudal, dan energi milik Iran. Persiapan ini ditandai dengan pengerahan tiga kapal induk sekaligus ke kawasan Timur Tengah menjelang akhir Oktober, melansir dari laporan The New York Times (9/10).
​Meski Presiden Donald Trump secara tegas menyatakan bahwa ia tidak akan melancarkan serangan sebelum pemilihan umum paruh waktu pada 3 November mendatang, dari laporan ini terlihat bahwa lingkaran internal militer justru mengambil langkah yang berbeda. Pentagon dan para komandan tinggi tetap merumuskan berbagai skenario pertempuran secara intensif, mencerminkan adanya ketidakselarasan sudut pandang antara Gedung Putih yang memilih jalur diplomasi dan pihak militer yang bersiap siaga menghadapi eskalasi.
​Perbedaan arah kebijakan ini membuat situasi di lapangan semakin dilematis bagi pasukan AS yang harus menghadapi peningkatan serangan terhadap kapal-kapal komersial serta menipisnya cadangan rudal pencegat. Alhasil, meski kesiapan tempur telah digenjot sampai tingkat maksimal, kepastian eksekusi di lapangan tetap sepenuhnya bergantung pada lampu hijau politik dari Trump setelah kontestasi pemilu usai.



