


​Benua Afrika kini terjepit di tengah perebutan pengaruh digital antara Amerika Serikat dan China yang kian agresif. Laporan terbaru Irregular Warfare Initiative (IWI) pada Rabu (6/5) mengungkapkan bahwa kedua kekuatan global tersebut sedang berlomba menanamkan kendali melalui infrastruktur keuangan. China secara sistematis mendorong sistem CIPS untuk memutus ketergantungan pada Dolar, sementara AS memperketat pengawasan melalui standar ISO 20022. Bagi negara-negara Afrika, kedua teknologi ini membawa risiko serupa: hilangnya kedaulatan atas data dan sistem keuangan nasional mereka.
​Di level akar rumput, rakyat Afrika mulai beralih ke Web3 dan stablecoin sebagai pelarian dari inflasi dan sistem perbankan tradisional yang dianggap usang. Namun, langkah ini justru menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, teknologi ini menawarkan kemandirian; di sisi lain, infrastruktur blockchain yang ditawarkan pihak asing baik BSN milik China maupun platform Web3 yang didominasi modal Barat tetap menyimpan risiko pengintaian dan eksploitasi data. Afrika kini berisiko hanya menjadi objek uji coba dalam perlombaan senjata finansial yang tidak memihak pada kepentingan lokal.
​Urgensi kedaulatan digital kini menjadi harga mati bagi pemimpin Afrika untuk menghindari ketergantungan permanen pada salah satu blok. Bergantung pada sistem China berarti tunduk pada protokol tertutup Beijing, namun sepenuhnya mengikuti standar Barat juga berarti memberikan akses penuh bagi lembaga keuangan internasional untuk mendikte ekonomi domestik. Tantangan besar benua ini adalah membangun regulasi mandiri yang tangguh, sebelum mereka benar-benar kehilangan kontrol atas masa depan digitalnya di tangan kekuatan global.