​Bank-bank sentral di berbagai belahan dunia resmi menjadikan emas sebagai aset cadangan devisa terbesar global, menggeser dominasi obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasuries) untuk pertama kalinya sejak 1996. Berdasarkan laporan riset terbaru yang dirilis Goldman Sachs pada Jumat (28/8) serta data International Monetary Fund (IMF), porsi dolar AS dalam cadangan devisa global kini merosot di bawah level 50% seiring masifnya diversifikasi moneter pasca pembekuan aset Rusia senilai $300 miliar pada 2022.
​Analis Goldman Sachs, Lina Thomas dan Daan Struyven, memproyeksikan harga emas akan terus reli hingga menembus $4.900 per troy ounce pada akhir 2026, naik dari kisaran $4.600 pada akhir Agustus. Mereka mencatat akumulasi emas oleh bank sentral melonjak menjadi rata-rata 50 ton per bulan sepanjang 2026, jauh melampaui rata-rata sebelum 2022 yang berada di level 17 ton per bulan.
​Pembelian emas oleh bank sentral bahkan sempat melesat hingga 100 ton per bulan pada Juni 2026, dengan Bank Sentral Tiongkok tercatat sebagai pembeli terbesar. Selain dorongan bank sentral untuk mengamankan aset yang bebas risiko sanksi dan ketidakpastian fiskal Barat, penguatan harga emas juga didukung oleh berkurangnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed tahun ini serta meningkatnya permintaan instrumen hedging di kalangan investor swasta.



