Arab Saudi resmi menutup jalur pipa minyak utama East-West berkapasitas 7 juta barel per hari usai dihantam rentetan serangan drone dari wilayah Irak pada Jumat (11/9). Melansir laporan CNBC dan DW, penutupan infrastruktur tersebut memicu krisis pasokan karena menjadi rute alternatif terakhir ekspor minyak mentah Saudi ke Laut Merah, di tengah memanasnya konflik Selat Hormuz serta aksi milisi Ansarallah (Houthi) yang memblokade Selat Bab el-Mandeb usai merebut Pulau Perim. Situasi kian tegang setelah agenda pertemuan diplomatik darurat antara Iran dan negara Teluk di Oman yang dijadwalkan pada Senin (14/9) mendadak dibatalkan.
​Otoritas Irak melalui pemerintah di Baghdad mengonfirmasi bahwa serangan drone tersebut memang diluncurkan dari wilayah teritorialnya, berujung pada pencopotan komandan militer dan kepala kepolisian setempat di Provinsi Maysan. Pengakuan ini memicu reli tajam begitu pasar futures dibuka pada Senin (14/9) dini hari waktu Asia; kontrak futures minyak mentah Brent melonjak menembus $107 per barel, sementara futures US crude (WTI) terkerek melampaui $102 per barel akibat kekhawatiran disrupsi pasokan minyak mentah global.
​Lonjakan harga energi ini langsung memicu kekhawatiran inflasi dan menekan pasar kripto. Harga Bitcoin turut serta terkoreksi ke level harga $76.000 seiring memburuknya sentimen risiko pasar akibat eskalasi militer tersebut.



