


Perusahaan milik Elon Musk, SpaceX, resmi memulai perdagangan saham perdananya di bursa Nasdaq dengan kode emiten SPCX pada Jumat (12/6). Bersamaan dengan momen IPO ini, SpaceX langsung menduduki peringkat kedelapan dalam daftar perusahaan publik dunia dengan jumlah holding Bitcoin terbesar setelah mengonfirmasi jumlah Bitcoin mereka kepada publik. Berdasarkan dokumen S-1 yang diserahkan ke Komisi Sekuritas dan Bursa (SEC) Amerika Serikat, SpaceX tercatat memiliki holding sebanyak 18.712 BTC senilai sekitar $1,19 miliar atau setara dengan Rp21,1 triliun dengan harga rata-rata pembelian di angka $35.324 per BTC sejak akhir 2023.
​Pengumuman jumlah holding ini cukup mengejutkan market karena jumlah riil koin SpaceX ternyata dua kali lipat lebih banyak dari estimasi awal para analis blockchain. Data terbaru per 11 Juni menempatkan posisi jumlah holding SpaceX tepat di bawah perusahaan Strive yang memiliki 19.032 BTC, dan berada satu tingkat di atas bursa kripto Coinbase Global yang mengantongi 16.492 BTC. Pihak manajemen menyatakan bahwa holding Bitcoin ini sengaja disimpan sebagai alokasi aset jangka panjang pada neraca keuangan perusahaan, bukan untuk instrumen perdagangan aktif.
​Momen IPO SpaceX ini juga mencetak rekor besar di luar industri kripto dengan mematok harga penawaran awal sebesar $135 per saham dan berhasil mengumpulkan dana segar sekitar $75 miliar. Debut ini membuat valuasi total SpaceX sempat melonjak ke angka sekitar $1,75 triliun pada saat penawaran, menjadikannya salah satu aksi IPO terbesar di Amerika Serikat yang melampaui rekor IPO Saudi Aramco pada tahun 2019 silam.