


Michael Saylor memberikan klarifikasi tegas terkait penjualan Bitcoin oleh perusahaannya yang sempat memicu kepanikan di market kripto. Berbicara dalam New Era Finance Podcast dan ditayangkan pada Selasa (30/6), Saylor membantah anggapan bahwa Strategy telah meninggalkan strategi akumulasi Bitcoinnya. Ia menjelaskan bahwa transaksi penjualan tersebut berjumlah sangat kecil, yakni hanya 32 Bitcoin, atau setara dengan 0,02% dari total aset perusahaan, dibandingkan dengan akumulasi 175.000 Bitcoin sepanjang tahun 2026 ini.
Saylor menjelaskan bahwa langkah tersebut merupakan keputusan yang rasional bagi perusahaan yang beroperasi sebagai perusahaan treasury. Penjualan tersebut dilakukan guna memenuhi kewajiban dividen kepada investor kredit serta menjaga ekuitas perusahaan.
"Kami harus melindungi investor kredit dan ekuitas kami. Terkadang kami perlu menjual satu Bitcoin untuk membeli 20 Bitcoin lainnya; ini adalah langkah yang lebih efisien secara pajak dan rasional secara ekonomi," ujar Saylor. Ia menegaskan bahwa menjaga kepercayaan market kredit adalah hal vital agar perusahaan tetap memiliki daya beli Bitcoin yang kuat.
Selain membahas transaksi internal, Saylor menyoroti fenomena black hole AI yang menjadi alasan mengapa Bitcoin masih tertinggal dari indeks saham seperti S&P 500. Menurutnya, likuiditas global saat ini sedang terserap secara masif ke sektor kecerdasan buatan, yang menyebabkan sekitar $10-20 miliar keluar dari ekosistem kripto. Namun, ia tetap optimistis bahwa modal tersebut akan kembali ke Bitcoin setelah euforia AI mereda.
Sebagai penutup, Saylor menegaskan bahwa ia belum menjual satu pun Sats dari kepemilikan Bitcoin pribadinya yang bukan aset perusahaan.