


Nilai tukar rupiah yang menembus level psikologis Rp18.100 per dolar Amerika Serikat (AS) memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas ekonomi nasional. Kondisi tersebut dinilai sebagai sinyal bahaya yang tidak boleh diabaikan oleh pemerintah maupun otoritas moneter.
Pengamat ekonomi dari Indonesia Strategic and Economic Action Institution, Ronny P. Sasmita, menilai pelemahan rupiah saat ini bukan sekadar pergerakan pasar yang bersifat sementara. Menurutnya, tekanan terhadap mata uang Garuda merupakan hasil akumulasi berbagai faktor eksternal dan domestik yang terjadi secara bersamaan.
Dari sisi global, lonjakan harga minyak dunia akibat meningkatnya konflik geopolitik di Timur Tengah menjadi salah satu pemicu utama tekanan terhadap rupiah. Kenaikan harga energi berpotensi memperbesar beban impor Indonesia sekaligus meningkatkan tekanan terhadap neraca perdagangan dan inflasi.
Sementara itu, dari dalam negeri, ketidakpastian fiskal serta munculnya pertanyaan mengenai independensi Bank Indonesia turut memperburuk sentimen investor terhadap aset-aset Indonesia.
"Jebolnya rupiah ke level Rp18.100-an per dolar AS adalah sebuah wake-up call yang sangat keras bagi perekonomian nasional," ujar Ronny dalam keterangan resmi yang diterima Media Indonesia, Sabtu (6/6).