asset coin leftasset coin right
📩 Stay Ahead in Crypto!🔥
Get expert insights & alerts straight to your inbox — join our newsletter now!
Dark Mode
ACEUSDT0.101+0.0051 ( +5.32% )
ARGUSDT0.13-0.0149 ( -10.28% )
BANKUSDT0.24212-0.00964 ( -3.83% )
BTCUSDT65,786.6+1638.35 ( +2.55% )
ETHUSDT1,932.73+76.66 ( +4.13% )
HEIUSDT0.0926-0.0139 ( -13.05% )
HOMEUSDT0.00713-0.00044 ( -5.81% )
HYPEUSDT63.091+2.69 ( +4.45% )
SOLUSDT78.53+2.54 ( +3.34% )
Powered by
News

Situasi Makin Kritis, Mediator Desak AS-Iran Lakukan Gencatan Senjata 10 Hari

User
July 21, 2026 | 02:01 WIB
User
UpdatedDwi Cahyo
July 21, 2026 | 02:01 WIB
Situasi Makin Kritis, Mediator Desak AS-Iran Lakukan Gencatan Senjata 10 Hari

​Ketegangan di Timur Tengah kian memanas, membuat mediator internasional berpacu dengan waktu untuk mencegah pecahnya perang terbuka antara Amerika Serikat dan Iran. Menurut laporan The Wall Street Journal dan Reuters pada Senin (20/7), Qatar telah mengajukan proposal gencatan senjata 10 hari guna meredam eskalasi militer agar tidak memicu resesi ekonomi regional dan global jangka panjang.

​Dampak eskalasi ini paling terasa di Selat Hormuz yang kondisinya kini nyaris lumpuh. Ancaman militer membuat arus pelayaran niaga anjlok drastis, menyisakan hanya sekitar 10 kapal yang berani melintas setiap harinya. Kebuntuan di jalur perdagangan minyak global ini terus menyandera pasar energi dan menahan harga minyak mentah Brent di kisaran $90 per barel.

​Merespons proposal tersebut, Iran memastikan pintu diplomasi tetap terbuka. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, melalui siaran pemerintah IRIB mengonfirmasi bahwa pihaknya tengah mengkaji proposal deeskalasi itu. Meski demikian, Baghaei menegaskan postur militer mereka pantang kendur. "Sementara angkatan bersenjata kami merespons dengan tegas sumber agresi Amerika, diplomasi menyadari penuh tugasnya dan tidak menyia-nyiakan upaya untuk memenuhinya," tegas Baghaei.

​Krisis ini makin rumit dengan eskalasi terbaru di perairan Yaman. Kelompok Houthi resmi mengumumkan blokade di Selat Bab el-Mandeb dan Laut Merah untuk memotong jalur ekspor jutaan barel minyak harian milik Arab Saudi. Akibatnya, rantai pasok global kian tercekik karena kapal-kapal kargo internasional terpaksa memutar arah mencari rute alternatif yang memakan waktu dan biaya logistik jauh lebih mahal.

Copiedbagikan