​Pemerintah Iran menegaskan kesiapannya untuk menghadapi perang yang jauh lebih intens melawan Amerika Serikat menyusul eskalasi militer yang kian terbuka di kawasan. Mengutip laporan Bloomberg pada Rabu (9/9), seorang pejabat tinggi Iran menyatakan bahwa negaranya siap melipatgandakan serangan balasan terhadap setiap aksi militer Amerika Serikat. Otoritas Iran memandang konfrontasi bersenjata saat ini sebagai perang eksistensial bagi kelangsungan kedaulatan negara, sehingga merasa tidak memiliki opsi selain terus memberikan perlawanan penuh.
​Merespons ketegangan yang kian meruncing, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) langsung mengumumkan perluasan zona pembatasan maritim secara sepihak. Zona terlarang tersebut kini ditarik melebar dari Pelabuhan Chabahar ke arah timur, mencakup sebagian perairan Teluk Oman hingga masuk ke wilayah Laut Arab. Militer Iran menegaskan bahwa setiap kapal komersial maupun tanker internasional yang menerobos kawasan tersebut tanpa izin dan koordinasi awal akan dikenai sanksi tegas, termasuk ancaman pencabutan hak akses lintas secara total di Selat Hormuz.
​Konfrontasi ini kian meluas seiring pergerakan kelompok Houthi, milisi bersenjata di Yaman yang disokong Iran, yang terus mengintensifkan serangan terhadap infrastruktur strategis Arab Saudi. Mengutip laporan Türkiye Today pada Rabu (9/9), Menteri Pertahanan Pakistan Khawaja Asif menyatakan bahwa rangkaian serangan kelompok Houthi tersebut berpotensi memicu klausul Perjanjian Pertahanan Bersama Mekkah (Mecca Pact). Aliansi militer ini mengadopsi mekanisme pertahanan kolektif serupa Pasal 5 NATO, di mana pemerintah Pakistan kini tengah mempertimbangkan permintaan resmi pemerintah Arab Saudi untuk menggelar serangan udara langsung ke basis pertahanan kelompok Houthi di Saada dalam waktu dekat.



