


​Situasi geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas menyusul laporan yang saling bertolak belakang di lapangan. Pihak Iran secara resmi membantah klaim Donald Trump mengenai adanya negosiasi damai dan menegaskan bahwa perang akan terus berlanjut hingga seluruh sanksi ekonomi dicabut serta kerugian perang dibayar oleh AS. Di saat yang sama, Financial Times melaporkan bahwa Pakistan kini tengah berupaya memposisikan diri sebagai mediator utama guna mendinginkan konflik di Timur Tengah.
​Namun, upaya diplomasi tersebut dibayangi oleh eskalasi militer yang nyata di lapangan. Militer AS mengklaim telah menghancurkan atau merusak lebih dari 140 kapal angkatan laut Iran, sementara Teheran membalas dengan meluncurkan gelombang rudal baru ke arah selatan Israel. Laporan dari WSJ dan NY Times bahkan menyebutkan ribuan Marinir AS dijadwalkan tiba di wilayah tersebut pada hari Jumat, dengan opsi pengerahan pasukan payung untuk merebut Pulau Kharg yang merupakan pusat ekspor minyak utama Iran.
​Ketidakpastian ini memicu volatilitas ekstrem pada pasar komoditas dan aset berisiko global. Harga minyak sempat dilaporkan anjlok hingga 10% merespons pernyataan awal Trump tentang penundaan serangan, namun sentimen tersebut langsung berbalik arah seiring laporan build-up militer besar-besaran. Para pelaku market kini dalam posisi waspada tinggi karena ancaman operasi darat di titik strategis ekspor minyak dapat memicu krisis energi global dan guncangan ekonomi yang lebih dalam.