


​Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan bahwa potensi untuk mengakhiri perang adalah melalui pengakuan atas hak-hak sah Iran, pembayaran ganti rugi perang, serta jaminan internasional yang tegas terhadap agresi di masa depan. Dilansir dari Bloomberg, Teheran dilaporkan telah berkomunikasi melalui perantara regional untuk meminta jaminan khusus dari Amerika Serikat maupun Israel untuk tidak melakukan serangan terhadap Iran di masa depan sebagai syarat utama gencatan senjata.
​Sejumlah pejabat yang mengetahui masalah tersebut mengungkapkan bahwa Iran sangat mengkhawatirkan potensi serangan Israel setelah perang saat ini berakhir. Komunikasi rahasia ini difasilitasi melalui saluran belakang yang melibatkan sejumlah negara Eropa dan Timur Tengah. Namun, masih terdapat ketidakpastian mengenai kesediaan AS untuk memberikan komitmen tersebut, serta kemampuan Washington dalam menjamin kepatuhan penuh dari pihak Israel terhadap kesepakatan yang ada.
​Di tengah upaya diplomasi ini, situasi di lapangan tetap memanas menyusul laporan serangan rudal gabungan pertama oleh Iran dan Hizbullah ke wilayah Israel Utara pada Rabu malam waktu setempat. Insiden pemboman fasilitas perbankan sipil di Teheran juga semakin memperkeruh suasana, yang direspons Iran dengan ancaman balasan militer. Hingga saat ini, tuntutan mengenai kompensasi dan jaminan keamanan tetap menjadi poin krusial dalam negosiasi gencatan senjata yang tengah diupayakan oleh para mediator internasional.