Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan bersedia mempertimbangkan pelonggaran sanksi ekonomi serta pencairan aset negara yang dibekukan bagi Iran. Informasi ini beredar pertama kali pada Senin (28/9) dari Barak Ravid, seorang jurnalis koresponden CNN dan Axios, yang kemudian diberitakan lebih lanjut oleh CNN dan Al Jazeera. Langkah kompromi ini siap diambil Amerika Serikat dengan syarat Iran menunjukkan kemajuan serta komitmen riil terkait negosiasi isu nuklir.
​Seorang pejabat senior Amerika Serikat mengungkapkan bahwa Trump siap memberikan pelonggaran sanksi dan akses kembali atas dana yang dibekukan jika Iran bersedia menyetujui pembatasan program nuklirnya. Sinyal ruang diplomasi ini memberikan sedikit angin segar di tengah kebuntuan relasi geopolitik kedua negara dalam beberapa waktu terakhir.
​Kendati demikian, rumor pelonggaran sanksi ini belum mendapatkan konfirmasi atau rilis dokumen resmi dari kedua belah pihak. Pihak Iran sebelumnya menegaskan posisi mereka untuk tetap bertahan pada syarat utama pencabutan blokade laut dan sanksi sebelum menyetujui kesepakatan damai jangka panjang di kawasan Selat Hormuz.
​Di tengah bergulirnya spekulasi diplomasi tersebut, pergerakan harga energi di pasar global terpantau relatif terkendali. Harga minyak mentah acuan Brent bertahan di level $105 per barel, sementara minyak mentah pasar Amerika Serikat (WTI/Crude Oil) berada di kisaran $92 per barel seiring pelaku pasar yang masih mencermati kejelasan arah kebijakan kedua negara.



