asset coin leftasset coin right
📩 Stay Ahead in Crypto!🔥
Get expert insights & alerts straight to your inbox — join our newsletter now!
Dark Mode
BRUSDT0.12519-0.00802 ( -6.02% )
BTCUSDT67,322.0+593.88 ( +0.89% )
COREUSDT0.03245-0.03328 ( -50.63% )
ETHUSDT2,037.84+30.19 ( +1.5% )
NOMUSDT0.00381+0.00099 ( +35.11% )
PAXGUSDT4,501.67+3.73 ( +0.08% )
SOLUSDT83.74+0.99 ( +1.2% )
TRXUSDT0.3228+0.0068 ( +2.15% )
XRPUSDT1.3525+0.0151 ( +1.13% )
Powered by
News - Breaking News

Trump Nyatakan Ingin Kuasai Minyak Iran, Harga Kontrak Futures Melonjak ke $115

User
March 30, 2026 | 07:56 WIB
User
UpdatedDwi Cahyo
March 30, 2026 | 07:56 WIB
Trump Nyatakan Ingin Kuasai Minyak Iran, Harga Kontrak Futures Melonjak ke $115

Situasi di Timur Tengah kembali memasuki fase kritis setelah Presiden Trump secara terang-terangan menyatakan keinginannya untuk mengambil alih minyak di Iran, mengutip laporan Financial Times (FT). Trump bahkan disebut tengah mempertimbangkan untuk menyita Pulau Kharg, jantung ekspor yang menyalurkan hampir 90% minyak Iran. Pernyataan provokatif ini memicu spekulasi operasi darat besar-besaran oleh AS, yang langsung direspons market dengan harga kontrak minyak Futures melonjak ke level $115 per barel, sementara harga minyak mentah berada di level $103.

​Di tengah persiapan invasi tersebut, Channel 12 Israel melaporkan bahwa militer Israel tidak akan berpartisipasi dalam operasi darat jika AS menyerang Iran. Sikap jaga jarak dari sekutu utama ini memaksa Washington menanggung beban pertempuran sendirian. Eskalasi kian meluas dengan bergabungnya kelompok Houthi Yaman ke dalam konflik, yang secara resmi meluncurkan rudal balistik ke arah Israel dan mengancam blokade jalur pelayaran global di Selat Bab al-Mandab.

​Fokus dunia kini tertuju pada ancaman lumpuhnya dua jalur energi paling strategis secara bersamaan. Jika penutupan Bab al-Mandab terjadi berbarengan dengan pendudukan Pulau Kharg oleh AS, pasokan energi global dipastikan akan mengalami guncangan dalam skala yang belum pernah terjadi. Krisis ini menempatkan ekonomi dunia, terutama di kawasan Asia, dalam status siaga satu seiring dengan ketidakpastian keamanan energi yang kian liar dan sulit diprediksi.

Copiedbagikan