

.png)
.png)

Presiden Donald Trump dikabarkan tengah mempertimbangkan opsi operasi militer untuk mengambil hampir 1.000 pon uranium dari Iran, menurut laporan The Wall Street Journal.
Rencana tersebut dinilai sebagai misi yang kompleks dan berisiko tinggi, karena berpotensi melibatkan kehadiran langsung pasukan Amerika Serikat di wilayah Iran selama beberapa hari atau bahkan lebih lama.
Langkah ini disebut sebagai bagian dari upaya utama Trump untuk mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir. Selain opsi militer, Trump juga mendorong para penasihatnya untuk menekan Iran agar menyerahkan material uranium tersebut sebagai salah satu syarat untuk mengakhiri konflik yang sedang berlangsung.
Namun hingga saat ini, kedua negara belum melakukan negosiasi langsung untuk menyelesaikan konflik tersebut. Situasi ini menambah ketidakpastian geopolitik, terutama di kawasan Timur Tengah yang memiliki peran penting dalam stabilitas energi global.
Potensi operasi darat AS di Iran juga meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap eskalasi konflik yang lebih luas. Risiko tersebut dapat berdampak langsung pada harga minyak, stabilitas pasar keuangan, serta sentimen investor global.
Perkembangan ini menjadi salah satu indikator meningkatnya tensi antara kedua negara, sekaligus memperkuat kekhawatiran terhadap kemungkinan keterlibatan militer yang lebih dalam di kawasan tersebut.