


​Presiden Donald Trump dilaporkan bersikap skeptis terhadap proposal terbaru Iran untuk menjaga Selat Hormuz tetap terbuka dan menunda pembicaraan nuklir. Berdasarkan laporan Wall Street Journal, Trump meragukan itikad baik Teheran dalam memenuhi tuntutan utama Washington, terutama terkait penghentian pengayaan uranium dan pengembangan senjata nuklir.
​Gedung Putih diperkirakan akan memberikan respons resmi dalam beberapa hari ke depan guna memperjelas posisi AS terhadap tawaran tersebut. Meski negosiasi masih berjalan, Trump memberikan sinyal bahwa aksi militer dapat dilanjutkan jika proses diplomasi berakhir tanpa hasil yang nyata. Ketidakpastian ini mulai memberikan tekanan pada aset berisiko global akibat kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak dan lonjakan inflasi.
​Situasi di Selat Hormuz menjadi perhatian utama karena peran vitalnya dalam jalur energi dunia. Jika ketegangan meningkat dan sanksi diperluas, volatilitas akan menajam seiring dengan penguatan dolar AS sebagai aset safe haven. Sebaliknya, investor masih menunggu kesepakatan diplomatik yang konkret sebagai syarat utama bagi kembalinya stabilitas pada market aset digital dalam jangka menengah.