


Iran resmi mengalihkan strategi militernya dari sekadar serangan balasan menjadi serangan berkelanjutan yang menyasar infrastruktur strategis dan Selat Hormuz pada Rabu (11/03). Dilansir dari Reuters, juru bicara militer Iran menegaskan tidak akan membiarkan satu liter minyak pun mencapai Amerika Serikat dan sekutunya.
"Setiap kapal atau tanker yang menuju ke arah mereka kini menjadi target sah bagi kami," tegasnya dalam pernyataan resmi tersebut.
Eskalasi blokade di Selat Hormuz tersebut berpotensi bisa menyeret harga minyak dunia ke level ekstrem $200 per barel. Pihak Iran sekaligus menegaskan bahwa AS tidak lagi memiliki kendali atas stabilitas harga energi selama konflik berlangsung. Peringatan keras ini langsung direspon market dengan lonjakan harga minyak mentah AS yang kembali mendekati level $90 per barel pada perdagangan Rabu sore waktu setempat.
Selain sektor energi, Iran turut memperluas target sasaran ke infrastruktur teknologi milik raksasa AS seperti Nvidia, Microsoft, Amazon, IBM, Oracle, dan Palantir. Fasilitas digital yang tersebar di Israel, Dubai, serta Abu Dhabi tersebut kini dikategorikan sebagai target militer strategis. Langkah ini membidik pusat data dan sistem informasi yang dianggap menyokong operasional lawan di kawasan Timur Tengah.