


​Likuiditas altcoin terus menghadapi tekanan jual yang signifikan seiring dengan merosotnya volume perdagangan hingga 60% dari titik puncaknya. Berdasarkan data CoinMarketCap, total volume perdagangan kripto yang sempat menyentuh $232,6 miliar pada Oktober lalu, kini menyusut ke kisaran $91,2 miliar akibat ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah yang memicu sentimen risk-averse di kalangan investor.
​Meski demikian, sektor kecerdasan buatan (AI) justru menunjukkan kekuatan relatif kuat dibandingkan aset lainnya. Dalam satu bulan terakhir, token berbasis AI seperti Bittensor (TAO), Fetch.ai (FET), dan Render (RNDR) masing-masing mencatatkan kenaikan sebesar 94%, 54%, dan 28%. BlackRock melalui Head of Digital Assets-nya, Robert Mitchnick, menilai bahwa investor institusi kini cenderung memusatkan modal pada aset inti seperti Bitcoin dan Ethereum, serta proyek yang memiliki narasi infrastruktur ekonomi AI yang kuat.
​Analis digital asset Benjamin Cowen memperingatkan bahwa struktur market secara keseluruhan masih cenderung bearish, diperburuk oleh dominasi Bitcoin yang mencapai 56,2%. Namun, beberapa ahli melihat adanya peluang akumulasi pada altcoin besar seperti Ethereum, mengingat pasokan stablecoin di ekosistemnya telah meningkat tiga kali lipat dibanding tahun 2022. Investor kini diimbau tetap waspada terhadap volatilitas jangka pendek hingga adanya kejelasan lebih lanjut terkait kondisi geopolitik global hingga kebijakan terkait regulasi kripto di AS.