asset coin leftasset coin right
📩 Stay Ahead in Crypto!🔥
Get expert insights & alerts straight to your inbox — join our newsletter now!
Dark Mode
AKIUSDT0.00044+0.00023 ( +109.52% )
BTCUSDT78,087.6-963.63 ( -1.22% )
ETHUSDT2,185.52-39.63 ( -1.78% )
GATAUSDT0.000914+0.000024 ( +2.69% )
HYPEUSDT42.21-0.64 ( -1.49% )
IAGUSDT0.031-0.0015 ( -4.61% )
MOREUSDT0.00006978-0.000008 ( -10.5% )
SOLUSDT86.79-2.02 ( -2.28% )
U2UUSDT0.000625+0.000264 ( +73.13% )
Powered by
News

Analis Soroti Peluang Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dollar AS ke Rp18.000

User
May 16, 2026 | 18:15 WIB
User
UpdatedBenny Hawe
May 16, 2026 | 18:15 WIB
Analis Soroti Peluang Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dollar AS ke Rp18.000

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali menjadi sorotan setelah sejumlah analis dan pengamat pasar mulai membuka kemungkinan pelemahan menuju level Rp18.000 per dolar AS.

Tekanan terhadap rupiah meningkat di tengah penguatan dolar AS global, lonjakan harga minyak dunia, hingga memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah. Kondisi ini membuat mata uang emerging market, termasuk rupiah, berada dalam tekanan cukup besar.

Berdasarkan laporan Reuters, rupiah sempat menyentuh level terlemah baru di atas Rp17.500 per dolar AS seiring kenaikan harga energi dan meningkatnya aksi keluar modal asing dari pasar negara berkembang. Indonesia dinilai cukup rentan karena masih bergantung pada impor minyak mentah dan energi.

Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi bahkan memproyeksikan rupiah berpotensi mencapai Rp18.000 pada akhir Mei 2026 apabila tekanan global terus memburuk, khususnya jika konflik geopolitik semakin meluas dan harga minyak tetap tinggi.

Sementara itu, analis Doo Financial Futures Lukman Leong menilai skenario rupiah ke Rp18.000 dapat terjadi apabila harga minyak dunia bertahan di level tinggi dalam jangka waktu panjang. Kenaikan harga energi dinilai dapat memperbesar tekanan terhadap defisit transaksi berjalan Indonesia.

Analis lain juga menyoroti derasnya arus keluar modal asing dari pasar keuangan domestik. Kenaikan yield obligasi Amerika Serikat dan tingginya suku bunga global membuat investor asing cenderung memindahkan dana ke aset yang dianggap lebih aman.

Selain faktor eksternal, pasar juga mencermati kondisi fiskal domestik serta kemampuan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas rupiah di tengah volatilitas global yang meningkat.

Meski demikian, sejumlah pihak masih melihat level Rp18.000 sebagai skenario terburuk dan bukan proyeksi utama. Bank Indonesia tetap optimistis fundamental ekonomi domestik masih cukup kuat untuk menjaga stabilitas nilai tukar dalam jangka menengah.

Beberapa analis memperkirakan rupiah masih memiliki peluang kembali menguat ke kisaran Rp16.900 hingga Rp17.300 apabila tensi geopolitik mulai mereda dan harga minyak dunia mengalami normalisasi pada semester kedua 2026.

Saat ini, arah pergerakan rupiah dinilai akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan konflik global, kebijakan suku bunga The Fed, harga minyak dunia, hingga arus modal asing ke pasar emerging market.

Copiedbagikan